Morotai – Pemilik pangkalan BBM subsidi jenis minyak tanah (Mita), Safra baba, mengakui kuota minyak tanah subsidi sebanyak 5 ton yang diterimanya setiap periode penyaluran belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di empat desa wilayah distribusi, yakni Desa Gorua Utara, Gorua Selatan, Korago, dan Losuo, Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai.
Pernyataan tersebut disampaikan safra saat dikonfirmasi radarnusantara7.com, Sabtu (11/7/2026), sebagai tanggapan atas pemberitaan sebelumnya mengenai dugaan belum meratanya penyaluran minyak tanah subsidi di wilayah tersebut.
Menurut safra, keterbatasan kuota menjadi penyebab utama belum seluruh masyarakat penerima dapat dilayani dalam satu kali penyaluran. Jumlah kepala keluarga (KK) yang terdaftar sebagai penerima di empat desa tersebut dinilai sudah jauh melebihi kapasitas kuota yang tersedia.
Ia menjelaskan, khusus di Desa Losuo saja tercatat hampir 370 kepala keluarga aktif yang telah terdaftar sebagai penerima minyak tanah subsidi. Sementara itu, tiga desa lainnya juga memiliki jumlah penerima yang relatif besar sehingga total kebutuhan masyarakat jauh melampaui kuota yang diterimanya.
"Desa Losuo saja hampir 370 KK yang sudah terdaftar. Belum lagi tiga desa lainnya yang jumlah KK-nya juga hampir sama. Karena itu, kuota 5 ton memang belum mencukupi untuk melayani seluruh masyarakat penerima," ujar Safra
Safra berharap informasi yang berkembang di masyarakat dapat dipahami secara utuh karena kondisi yang terjadi di lapangan bukan disebabkan oleh keengganan pangkalan menyalurkan minyak tanah, melainkan karena keterbatasan kuota yang ditetapkan.
Ia juga meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait melakukan pendataan ulang terhadap kepala keluarga baru yang hingga kini belum masuk dalam daftar penerima subsidi. Menurutnya, kemungkinan masih terdapat warga yang memenuhi syarat tetapi belum terakomodasi dalam data resmi.
"Mungkin saja yang protes itu adalah KK baru yang belum terdaftar. Karena itu saya berharap ada pendataan ulang sekaligus penambahan kuota agar semua masyarakat yang berhak bisa terlayani," katanya.
Lebih lanjut, Safra menegaskan bahwa sebagai pangkalan resmi, dirinya hanya menyalurkan minyak tanah subsidi sesuai data penerima yang telah diverifikasi berdasarkan kartu keluarga dan daftar penerima yang ditetapkan. Apabila kuota habis sebelum seluruh warga menerima jatah, pihaknya menerapkan sistem penyaluran secara bergiliran pada distribusi berikutnya.
"Kalau ada yang belum dapat, biasanya saya buat sistem bergiliran. Setelah jatah berikutnya masuk, baru saya salurkan kepada warga yang belum kebagian," jelasnya."
Ia juga mengungkapkan bahwa proses distribusi ke empat desa memerlukan waktu karena jarak tempuh antarwilayah yang cukup jauh. Untuk penyaluran berikutnya, minyak tanah dijadwalkan lebih dahulu tiba di Desa Gorua, sedangkan distribusi ke desa-desa lainnya akan dilanjutkan pada hari Senin.
Menurut safra apabila melihat jumlah penerima yang rata-rata mencapai lebih dari 200 kepala keluarga di setiap desa, bahkan hampir 370 kepala keluarga di Desa Losuo, maka kuota 5 ton sudah tidak lagi sebanding dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, ia berharap pemerintah, agen penyalur, maupun pihak terkait dapat mengevaluasi kembali besaran kuota minyak tanah subsidi yang dialokasikan untuk wilayah Morotai Utara agar penyaluran dapat berlangsung lebih merata dan tidak lagi menimbulkan keluhan di tengah masyarakat.
"Harapan saya ada penambahan kuota. Dengan jumlah KK yang terus bertambah, kuota 5 ton sudah tidak mencukupi untuk melayani empat desa," pungkasnya.
Sebelumnya, warga di sejumlah desa di Kecamatan Morotai Utara mengeluhkan penyaluran minyak tanah subsidi yang dinilai belum merata. Sejumlah masyarakat mengaku tidak sempat memperoleh jatah karena distribusi berlangsung dalam waktu singkat, sementara sebagian lainnya diduga belum tercatat sebagai penerima. Menanggapi kondisi tersebut, pihak pangkalan menegaskan bahwa kendala utama bukan terletak pada mekanisme penyaluran, melainkan keterbatasan kuota yang tersedia dibandingkan dengan jumlah penerima yang terus bertambah.
(reporter: Sutan)
Tags:
peristiwa